Aulia, Adelia Rafa (2026) PENGALAMAN MAHASISWA AKTIVIS JAKARTA PADA FENOMENA CANCEL CULTURE DI MEDIA SOSIAL X: STUDI FENOMENOLOGI TENTANG TANGGUNGJAWAB SOSIAL ATAU KEKERASAN SIMBOLIK. Diploma thesis, Universitas Nasional.
|
Text
COVER.pdf Download (725kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (622kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Download (584kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Download (616kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (304kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Download (1MB) |
Abstract
Perkembangan media sosial menjadi sarana pertukaran informasi dan makna antar pengguna, seperti media sosial X. X menjadi ruang utama warganet mengeskpresikan opini, kritik,dan kecaman sehingga memicu maraknya fenomena yang kontroversial. Salah satunya Cancel Culture, yaitu bentuk penolakan atau kritik kolektif terhadap individu atau kelompok yang dianggap melanggar norma sosial. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada figur publik, tetapi juga mulai terlihat dalam lingkup yang lebih kecil seperti komunitas mahasiswa. Salah satu contoh yang muncul adalah perdebatan dan kritik kolektif di media sosial X yang melibatkan mahasiswa di berbagai kampus di Jakarta, seperti UI, UNJ, dan UNAS. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa aktivis Jakarta memaknai fenomena cancel culture di media sosial X, apakah sebagai bentuk tanggung jawab sosial atau sebagai kekerasan simbolik. Teori Tanggung Jawab Sosial (Siebert,dkk) dan Teori Kekerasan Simbolik (Pierre Bourdieu) menjadi menjadi landasan konseptual sekaligus alat interpretasi dalam menganalisis temuan penelitian. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretivisme dan pendekatan kualitatif fenomenologi, data diperoleh melalui wawancara mendalam secara daring dengan mahasiswa di Universitas Jakarta yang aktif dalam organisasi dan diskursus digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara dominan cancel culture dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab sosial selama tidak menyerang ranah personal dan tetap berbasis fakta serta etika. Namun, praktik ini dapat berubah menjadi kekerasan simbolik ketika menimbulkan stigma, pembungkaman, dan eksklusi sosial. Pemaknaan yang bersifat kondisional ini menunjukkan adanya dilema moral mahasiswa aktivis dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial di ruang digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun cancel culture dapat berfungsi sebagai sarana kritik sosial, praktik tersebut juga perlu disikapi secara bijak karena berpotensi menciptakan kekerasan simbolik melalui tekanan opini publik di ruang digital.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) H Social Sciences > HM Sociology |
| Divisions: | Skripsi > Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Program Studi Ilmu Komunikasi |
| Depositing User: | Irna Irna Yunita |
| Date Deposited: | 12 Jun 2026 02:50 |
| Last Modified: | 12 Jun 2026 02:50 |
| URI: | https://repository.unas.ac.id/id/eprint/16499 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
