POLA JELAJAH INDIVIDU REMAJA ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) DI STASIUN PENELITIAN SUAQ BALIMBING,TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER ACEH SELATAN

Ningtiyas, Cinta (2026) POLA JELAJAH INDIVIDU REMAJA ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) DI STASIUN PENELITIAN SUAQ BALIMBING,TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER ACEH SELATAN. Masters thesis, Universitas Nasional.

[thumbnail of Cover.pdf] Text
Cover.pdf

Download (827kB)
[thumbnail of BAB I.pdf] Text
BAB I.pdf

Download (554kB)
[thumbnail of BAB II.pdf] Text
BAB II.pdf

Download (898kB)
[thumbnail of BAB III.pdf] Text
BAB III.pdf

Download (772kB)
[thumbnail of BAB IV.pdf] Text
BAB IV.pdf

Download (1MB)
[thumbnail of BAB V.pdf] Text
BAB V.pdf

Download (479kB)
[thumbnail of Lampiran.pdf] Text
Lampiran.pdf

Download (2MB)

Abstract

Daerah jelajah merupakan wilayah yang digunakan oleh suatu individu dalam melakukan aktivitas kehidupannya, seperti makan, reproduksi dan mengasuh anak dalam kurun waktu tertentu. Daerah jelajah harian orangutan bervariasi yang dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, dan kualitas habitat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan jarak jelajah harian (Daily Journey Length/DJL), pengaruh interaksi sosial dengan kerabat dan non-kerabat terhadap pergerakan, pola tumpang tindih daerah jelajah, serta pengaruh ketersediaan buah dan kelimpahan pohon pakan terhadap strategi penggunaan ruang pada individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Penelitian ini dilakukan di Stasiun Penelitian Suaq Balimbing, Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh Selatan yang memiliki kepadatan populasi tinggi yaitu 6,9 individu/km² dan ketersediaan pakan yang melimpah. Metode pengambilan data menggunakan focal instantaneous sampling dengan mengikuti individu target dari bangun hingga membuat sarang sore. Data spasial dianalisis menggunakan Kernel Density Estimator (KDE) untuk estimasi luas daerah jelajah, serta Generalized Linear Models (GLM), ANOVA, dan uji-t untuk analisis statistik hubungan antar variabel. Analisis spasial tambahan menggunakan teknik interpolasi Kriging dilakukan untuk memetakan distribusi kelimpahan pohon pakan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan strategi perkembangan pola jelajah antara individu remaja jantan dan betina. Individu remaja jantan menunjukkan pola dispersi dengan peningkatan signifikan DJL dari 1977,93 m pada tahun 2021 menjadi 6436,33 m pada tahun 2022 (p = 0,0018) dan tetap tinggi pada tahun 2023 sebesar 6529,29 m (p = 0,996). Sebaliknya, individu remaja betina menunjukkan pola filopatri dengan aktivitas terpusat di area inti, dengan DJL meningkat dari 3850,48 m pada tahun 2022 menjadi 6507,56 m pada tahun 2023 (p = 0,046), kemudian menurun menjadi 3606,72 m pada tahun 2024 (p = 0,056). Analisis GLM menunjukkan tidak terdapat interaksi signifikan antara DJL individu remaja jantan dengan kerabat (p = 0,852), sedangkan pada individu remaja betina terdapat interaksi signifikan (p = 0,008). Analisis menunjukkan bahwa DJL remaja jantan memiliki pengaruh signifikan terhadap ketersediaan buah (p = 0,031) sedangkan pada remaja betina tidak signifikan (p = 0,103). Terdapat perbedaan pergerakan pola jelajah pada individu remaja jantan (area utara dan selatan) dan betina (area barat dan timur). Individu remaja jantan memiliki daerah jelajah 128,93 ha (2021) dengan tumpang tindih kerabat 86,35 ha, 140,45 ha (2022) dengan tumpang tindih kerabat 58,15 ha, serta 109,21 ha (2023) dengan tumpang tindih kerabat 74,74 ha dan non-kerabat 1,02–97,70 ha, dengan pengaruh signifikan baik terhadap kerabat (p = 0,038) maupun non-kerabat (p = 0,022). Individu remaja betina memiliki daerah jelajah 195,11 ha (2022) dengan tumpang tindih kerabat 170,99 ha dan non-kerabat 46,59–84,73 ha, 146,90 ha (2023) dengan tumpang tindih kerabat 77,99 ha dan non-kerabat 3,35–81,15 ha, serta 85,24 ha (2024) dengan tumpang tindih kerabat 25,39 ha dan non-kerabat 1,92–14,12 ha, dengan pengaruh signifikan baik terhadap kerabat (p = 0,049) maupun non-kerabat (p = 0,029). Pemanfaatan kelimpahan pohon pakan menunjukkan bahwa individu remaja jantan pada tahun 2022 (140,45 ha) dan 2023 (109,21 ha), serta individu remaja betina pada tahun 2022 (195,11 ha), 2023 (146,89 ha), dan 2024 (85,24 ha) dengan tidak memiliki pengaruh signifikan antara luas daerah jelajah dan kategori kelimpahan rendah, sedang, dan tinggi pada individu remaja jantan (p = 0,88; 0,77; 0,56) maupun individu remaja betina (p = 0,37; 0,39; 0,45). Analisis spasial menunjukkan daerah jelajah individu remaja jantan dan betina umumnya membesar/luas saat kelimpahan pohon pakan dengan kategori rendah hingga sedang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa di habitat dengan sumber daya melimpah seperti Suaq Balimbing, faktor jenis kelamin dan hubungan kekerabatan lebih dominan dalam membentuk pola jelajah remaja dibandingkan faktor ketersediaan buah.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Q Science > Q Science (General)
Q Science > QH Natural history > QH301 Biology
Divisions: Tesis dan Disertasi > Sekolah Pasca Sarjana > Program Studi S2 Ilmu Biologi
Depositing User: Fitria Nur Indah Hasanah
Date Deposited: 11 May 2026 03:01
Last Modified: 11 May 2026 03:02
URI: https://repository.unas.ac.id/id/eprint/15864

Actions (login required)

View Item View Item