BIOFILIA DAN HUBUNGANNYA TERHADAP SIKAP PROKONSERVASI OWA JAWA (Hylobates moloch) PADA MASYARAKAT DESA MALASARI, JAWA BARAT

Suteja, Hardiansyah (2026) BIOFILIA DAN HUBUNGANNYA TERHADAP SIKAP PROKONSERVASI OWA JAWA (Hylobates moloch) PADA MASYARAKAT DESA MALASARI, JAWA BARAT. Diploma thesis, Universitas Nasional.

[thumbnail of COVER.pdf] Text
COVER.pdf

Download (540kB)
[thumbnail of BAB I.pdf] Text
BAB I.pdf

Download (185kB)
[thumbnail of BAB II.pdf] Text
BAB II.pdf

Download (470kB)
[thumbnail of BAB III.pdf] Text
BAB III.pdf

Download (928kB)
[thumbnail of BAB IV.pdf] Text
BAB IV.pdf

Download (143kB)
[thumbnail of LAMPIRAN.pdf] Text
LAMPIRAN.pdf

Download (3MB)

Abstract

Owa jawa (Hylobates moloch), primata endemik berstatus Endangered (IUCN), menghadapi ancaman serius akibat fragmentasi habitat, terutama di Taman Nasional Gunung Halimun–Salak (TNGHS). Keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pendekatan ekologis, tetapi juga pada dukungan psikologis masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen biofilia dan sikap prokonservasi berbasis konteks lokal, serta menguji hipotesis bahwa: (H1) terdapat hubungan positif antara biofilia dan sikap prokonservasi owa jawa; dan (H2) jarak geografis dari habitat berasosiasi dengan variasi sikap prokonservasi. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2024–Februari 2025 di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, dan menjangkau masyarakat Jawa Barat secara lebih luas melalui survei daring. Desain mixed methods sequential exploratory digunakan, mencakup wawancara mendalam dan FGD (n=11 partisipan) sebagai fondasi emik pengembangan instrumen, dilanjutkan survei kuantitatif pada 360 responden. Skala Biofilia (18 item; α=0,811) dan Skala Sikap Prokonservasi Owa Jawa (15 item; α=0,802) menunjukkan struktur unidimensional dengan reliabilitas baik, mengintegrasikan dimensi spiritual-kultural lokal seperti pamali yang tidak tertangkap instrumen Barat. H1 didukung kuat (r=0,771; R²=0,594), sementara H2 tidak mendapat dukungan empiris (p=0,441). Integrasi kualitatif-kuantitatif mengungkap conservation paradox: masyarakat dengan biofilia tertinggi justru paling resisten terhadap konservasi formal akibat pengalaman ketidakadilan tata kelola, bukan ketidakpedulian ekologis. Penelitian ini merekomendasikan strategi konservasi partisipatif yang mengintegrasikan kearifan lokal dan mereformasi pendekatan tata kelola kawasan.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: Q Science > QH Natural history > QH301 Biology
Q Science > QR Microbiology
Divisions: Skripsi > Fakultas Biologi dan Pertanian > Program Studi S1 Biologi
Depositing User: Delvy Aplirizani -
Date Deposited: 30 Apr 2026 08:38
Last Modified: 30 Apr 2026 08:38
URI: https://repository.unas.ac.id/id/eprint/15553

Actions (login required)

View Item View Item